|

|
|
Akar kata halotosis berasal dari bahasa Latin, yaitu "halitus" yang berarti nafas dan "osis" yang berarti keadaan. Dalam tataran medis halitosis bermakna aroma napas yang tidak sedap. |
|
| Penyebab: |
|
|
|
 |
Kasus halitosis disebabkan oleh banyak faktor, namun penelitian terakhir menemukan bahwa penyebab utama gangguan ini adalah kesehatan oral yang tidak terjaga dengan baik.
Saat makanan diproses dalam rongga mulut, pada saat bersamaan terbentuklah sulfur. Jika sisa makanan tidak dibersihkan secara seksama setelah makan, maka sulfur yang tertinggal di dalam mulut dapat menimbulkan bau tak sedap. Pada sisi lain, sisa-sisa makanan yang tertinggal di sela gigi dan gusi memicu terjadinya infeksi bakteri. |
|
Sedangkan penyebab lainnya adalah:
-
Jenis makanan tertentu dapat memicu perubahan bau mulut, antara lain; petai, jengkol, bawang merah, bawang putih, kol.
-
Kebiasaan merokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, vitamin (terutama dalam dosis tinggi), dan obat-obatan tertentu.
-
Kondisi kesehatan gigi yang buruk, seperti; karies, abses gusi, impaksi gigi, dan gingivitis.
-
Kondisi rongga mulut yang kering terlalu lama, seperti; saat berpuasa (tidak makan dan minum), juga pada saat bangun pagi. Atau pada kondisi kekeringan mulut yang parah (Xerostomia)
-
Pemakaian gigi palsu yang tidak dibersihkan secara rutin.
-
Menderita penyakit tertentu, seperti infeksi tenggorokan, kanker kerongkongan, sinusitis, amandel, penyakit saluran pernapasan, seperti; infeksi paru atau bronkhitis kronis, radang ginjal, Diabetes mellitus, penyumbatan usus, serta gangguan lambung.
-
Mengalami stres. | |
| |
|
Solusi » | |