hot mediaheadlines

Jakarta Update
Seks & Kesehatan
Artis & Hiburan
Human Interest
Wisata
Keuangan
Teknologi
Ekonomi
Politik
Kriminal
Lainnya
 

139 stories,7 comments

Obesitas pada Anak Bisa Turunkan Tingkat Kecerdasan
Republika.com, 27 September 2006

.

Obesitas atau kegemukan pada anak terutama pada usia 6-7 tahun bisa menurunkan tingkat kecerdasan anak, karena aktivitas dan kreativitas anak menjadi menurun dan cenderung malas, demikian ungkap Dosen Fakultas Kedokteran Undip, Darmono. "Obesitas secara berlebihan pada anak biasanya akan menyebabkan tingkat kecerdasan anak menurun, kemudian dengan kelebihan berat badan anak menjadi malas."  
   
Darmono juga menegaskan bahwa anak yang kegemukan pada waktu tidur akan mengalami kondisi tidak bernafas, kondisi dimana pada waktu tidur ada gelombang pernafasan yang berhenti, ibaratnya orang yang tidur mendengkur ada waktu-waktu dia tidak bernafas. "Obesitas pada anak, disebabkan oleh asupan makanan yang berlebih. Selain itu, pada waktu lahir anak tidak dibiasakan mengkonsumsi air susu ibu (ASI), tetapi dibiasakan pakai susu formula dalam botol, padahal anak yang diberi ASI, biasanya asupan asinya sesuai ketentuan berat badan bayi," ujarnya.
   
Menurutnya, jika terbiasa minum susu dari botol, cenderung sulit menghitung jumlah asupan makanan anak, bahkan para orang tua cenderung membuatkan susu lebih kental, sehingga melebihi porsi yang dibutuhkan anak. Kemudian, pada usia 4-5 tahun anak sudah mengalami kelebihan berat badan, karena sejumlah makan yang diberikan sebelumnya tanpa memperhatikan takaran kebutuhan anak, sehingga terjadi  penimbunan makanan yang diekspresikan dalam lemak.
   
Ia mengungkapkan, anak yang mengalami obesitas bisa dideteksi secara dini, bahkan ketika orang tuanya sedang hamil bisa diketahui melalui berat badan normal rata-rata antara 7-14 kilogram, tetapi jika melebihi angka 14 kilogram bisa dianggap sebagai obesitas. 

Sampai saat ini, masih ada perdebatan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa obesitas diakibatkan faktor genetik. Namun berdasarkan hasil penelitian Badan Internasional Obesitas Task Force (ITF) dari badan WHO yang mengurusi anak yang kegemukan mengatakan bahwa 99 persen anak obesitas karena dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan bukan karena faktor genetik. Faktor lingkungan ini, dipengaruhi oleh aktivitas dan pola makan orang tua anak, misal pola makan bapak dan ibunya tidak teratur menurun pada anak, karena dilingkungan itu tidak menyediakan makanan yang tinggi energi, bahkan aktivitas dalam keluarga juga tidak mendukung.

 

lihat/isi komentar

cetak artikel ini

kirim ke teman

Jumlah Perokok Muda Meningkat
Liputan 6.com

.

Penelitian Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menemukan terjadi penurunan angka usia perokok. Rokok ternyata bukan hanya konsumsi masyarakat dewasa tapi juga anak-anak. Hal tersebut dikemukakan oleh Rachmat Sentika,  anggota Satuan Tugas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia di Jakarta, Senin, 5 September 2006.

"Dari usia 12 tahun di tahun 80-an sekarang jadi tujuh tahun," kata Rachmat seperti dilansir Liputan6.com. Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak mensinyalir tiap tahun perokok anak di Indonesia meningkat hingga 20 persen. "Perlu larangan anak merokok dan melarang orang tua merokok di depan anak, karena menjadi model," kata Seto Mulyadi, Ketua Komnas Perlindungan Anak. Hingga kini, Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi rokok tertinggi di dunia, setelah negara Cina, Amerika Serikat, Rusia, dan Jepang.

Salah satu penyebab anak mulai mengkonsumsi rokok adalah karena pengaruh teman hingga iklan rokok. Seperti dikemukakan Aziz, siswa menengah atas di Jakarta. Ia mengaku mencoba-coba rokok karena melihat teman. "Berlanjut sampai sekarang dan tidak bisa berhenti," ujarnya.

Melihat hal ini, Komisi IX DPR telah mengusulkan rancangan undang-undang tentang pengendalian dampak produk tembakau bagi kesehatan. RUU ini akan melindungi anak-anak dari kebiasaan merokok. Salah satu pasalnya, anak di bawah usia 18 tahun dilarang membuat, mengkonsumsi, dan menjual rokok. Pelaku industri rokok juga mendukung regulasi larangan merokok anak-anak di bawah umur dengan mengharuskan mencantumkan batas usia 18 tahun pada setiap kemasan rokok

 

lihat/isi komentar

cetak artikel ini

kirim ke teman

Cumi-cumi dan Ikan Pindang Masih Mengandung Formalin
Liputan6 online

.

Pengujian makanan yang mengandung formalin kembali menemukan bukti penggunaan bahan pengawet yang telah dilarang itu pada sejumlah produk pangan hasil perikanan dan kelautan di Jakarta. Temuan tersebut didapat dari pengujian yang dilakukan Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan dalam sebulan terakhir terhadap sampel ikan pindang dan cumi-cumi.

Sampelnya diambil dari sejumlah nelayan yang ada di sekitar perairan Jakarta dan produk pangan hasil kelautan yang beredar di Ibu Kota. Dari 200 sampel yang diuji, didapat 10 persen masih mengandung formalin walaupun dalam kadar tak terlalu tinggi. "Nanti kita telusuri apakah betul disengaja menambahkan atau bukan mereka yang menambahkan," kata Sri Haryati, Kasie Pengujian Balai Pengujian.

Selain formalin, Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI menyinyalir masih banyak produk pangan yang beredar membahayakan kesehatan. Salah satunya adalah jajanan yang menggunakan zat pewarna bukan untuk makanan. Demikian diungkapkan Prof. Dr. Dedi Fardiaz, Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM.

Menurutnya kecenderungan anak-anak yang hanya memperhatikan kemasan dan warna dari makanan atau minuman yang akan mereka beli seringkali membuat mereka tidak memperhatikan keamanan panganan itu. Padahal bukan tak mungkin, warna yang menarik tersebut berasal dari zat pewarna non makanan. Kebiasaan inilah yang harus diubah dengan menimbulkan kesadaran akan pentingnya memerhatikan keamanan dan mutu panganan.

 

lihat/isi komentar

cetak artikel ini

kirim ke teman

Flu Burung Menyebar Ke 3 Desa Di Sumatera Utara
Kompas

.

Hingga hari Selasa 22 Agustus 2006, dari 62 kasus infeksi virus avian influenza atau flu burung H5N1 yang telah dikonfirmasi di Indonesia, tercatat sudah 47 orang meninggal. Jumlah korban meninggal akibat flu burung ini menempatkan Indonesia pada urutan teratas sebagai negara yang memiliki jumlah korban wabah tersebut di dunia. Berita ini dilansir Kompas, edisi Rabu, 23 Agustus 2006. 

Seperti diberitakan beberapa saat lalu, virus tersebut sedang mewabah di Sumatera Utara. Sekalipun telah dilakukan langkah isolasi, penyebaran virus tersebut pada unggas, belum dapat dihentikan.

Kabar terbaru dari daerah tersebut, menyatakan bahwa virus H5N1 saat ini telah menyebar ke unggas di tiga desa baru di Kabupaten Dairi, Sumut. Penyebarannya diketahui setelah Badan Penyidikan dan Pengujian Veteriner Regional I Medan memeriksa sampel ayam dari daerah itu.

 

lihat/isi komentar

cetak artikel ini

kirim ke teman

139 stories,7 comments

Polling
Rabu kemarin (27/9) Presiden SBY mengeluarkan 7 petunjuk untuk mengatasi bencana semburan lumpur panas akibat operasi PT. Lapindo Brantas, salah satunya adalah dialirkan ke Sungai Porong. Apa tanggapan Anda ?

Setuju. Penanganan yang sistematis dan terarah memang diperlukan untuk mengatasi semburan lumpur
Tidak Setuju. Sungai Porong adalah sumber pengairan tambak udang dan ikan dan jika lumpur dialiri kesana akan meracuni udang dan ikan dan kemudian manusia.
Tidak tahu. Sampai saat ini belum ada satu langkah yang sudah dilakukan berhasil menutup semburan lumpur.

 

 

 
 print this page  |    send to friend  |    subscribe this channel

Copyright © 2006 conectique.com, Inc. All Rights Reserved